Gerry Salim fokus persiapan balap tingkat internasional

Malang (ANTARA News) – Pebalap asal Indonesia Gerry Salim mengaku lebih fokus untuk mempersiapkan diri di ajang balap Supermoto tingkat internasional sehingga tidak bisa mengikuti Trial Games Asphalt 2018 secara penuh.

“Saya tidak bisa juara umum Supermoto pada tahun ini, karena saya hanya mengikuti seri terakhir (grand final) di Sirkuit Stadion Kanjuruhan Malang. Saya tahun ini memang lebih fokus pada kejuaraan internasional,” kata Gerry yang dihubungi di Malang, Jawa Timur, Senin.

Gerry Salim sukses menjadi juara dalam ajang Trial Game Asphalt 2018 kelas FFA 450 Internasional yang digelar di Sirkuit Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (15/12). Meski harus bersaing dengan pebalap-pebalap luar negeri, Gerry mampu menunjukan dominasinya dan sukses menjuarai dua race sekaligus.

Di ajang tersebut, Gerry Salim sukses meraih gelar juara dan sekaligus mengalahkan tiga pebalap internasional lainnya yang juga bertanding di kelas FFA 450 cc tersebut, yakni Lewis Cornish (Inggris), Germain Vincenot (Prancis), dan Jan Deteinbach (Jerman).

Padahal, juara Supermoto Eropa 2016 dan 2017, Germain Vincenot diunggulkan pada ajang tersebut, namun ia hanya mampu finis di posisi ke-10.

Podium pertama diisi oleh Gerry Salim yang sukses menjadi juara dalam dua race dan podium kedua diraih Farudila Adam, serta posisi ketiga ditempati Doni Tata Pradita.

Gerry Salim lebih lanjut mengaku ia sangat senang bisa join di seri final (terakhir), apalagi bersaing dengan tiga pebalap internasional.? “Saya senang bisa mengalahkan Germain yang sudah punya pengalaman juara Supermoto Eropa, tapi saya bisa kalahkan dia di Malang,” tutur Gerry.

Bergabungnya Gerry Salim di seri terakhir balap Supermoto di Malang karena kebetulan ia sudah pulang ke Tanah Air, sehingga bisa bergabung. “Saya senang bisa ikut dan hasilnya sangat bagus,” ucapnya.

Gerry Salim tidak hanya sukses meraih yang terbaik di ajang tersebut, ia juga menjadi bintang dalam seri terakhir kejuaraan balap supermoto Trial Game Asphalt 2018. Hanya saja, meski menjadi pebalap yang finis tercepat, Gerry harus memberikan gelar juara umum kepada rekannya, Doni Tata Pradita, sebab pebalap kelahiran Surabaya itu hanya tampil di seri terakhir.

Gerry melewatkan empat seri lainnya yang berlangsung di Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Boyolali. Saat empat seri itu berlangsung, Gerry sedang berada di Eropa. Juara umum Kejuaraan balap supermoto Trial Game Asphalt 2018 diraih Doni Tata setelah sukses mengumpulkan 225 poin dalam lima seri.
  Arsip. Jelang Kejuaraan Internasional Supermoto Pembalap Doni Tata berfoto usai konfrensi pers Kejuaraan Internasional Supermoto Putaran Final di depan Candi Singosari, Malang, Jawa Timur, Jumat (6/10/2017). Kejuaraan Internasional Supermoto Putaran Final yang akan digelar pada tanggal 7-8 Oktober 2017 tersebut diikuti puluhan pembalap dari berbagai negara untuk memperebutkan gelar juara dan poin. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

(E009/B015)

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Ferrari akan selenggarakan pameran untuk hormati Michael Schumacher

Jakarta (ANTARA News) – Michael Schumacher pernah menjadi pebalap terbaik di dunia, dan hingga kini tetap menjadi salah satu yang paling terkenal, bahkan di kalangan orang-orang yang tidak menggemari olahraga balap sekalipun.

Sejak Schumacher mengalami kecelakaan saat bermain ski pada Desember 2013, ia menghilang dari sorotan publik. Namun,  mantan tim balapnya, Ferrari, kini akan membawa Schumacher kembali ke lensa publik dengan menyelenggarakan pameran untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-50.

Sebagaimana dilansir DPA, Sabtu, Museum Ferrari Italia mengatakan, pameran yang akan dibuka pada hari ulang tahun Schumacher, pada 3 Januari, “dimaksudkan sebagai perayaan dan tanda terima kasih kepada pebalap kuda jingkrak paling sukses yang pernah ada.”

Pameran ini akan berlangsung selama beberapa bulan di Museum Ferrari, yang terletak di Modena Italia.

Schumacher yang kelahiran Jerman adalah pengemudi di Ferrari dari tahun 1996 hingga tahun 2006. Total ia memenangi tujuh kejuaraan dunia Formula 1, lima di antaranya selama ia di Ferrari.

Sejak kecelakaannya pada tahun 2013, tidak banyak publikasi tentang kesehatannya. Kalaupun ada berita tentang Schumacher adalah karena terkait dengan  putranya yang mulai tampil di panggung balap pada tahun 2018. Sang putra, Mick Schumacher antara lain memenangi kejuaraan Formula 3 Eropa.

Baca juga: Mick, anak Michael Schumacher juara F3 Eropa
 

Penerjemah: Anggarini Paramita
COPYRIGHT © ANTARA 2018

10 alasan untuk tidak melewatkan balapan F1 2019

Jakarta (ANTARA News) – GP Australia akan mengawali kalender balapan Formula 1 musim 2019 pada Maret nanti. Dengan perubahan regulasi dan formasi tim, berikut 10 alasan kenapa Formula 1 musim 2019 sayang untuk dilewatkan.

1. Leclerc akan bersaing dengan Vettel di Ferrari
  Pebalap tim Sauber Charles Leclerc (twitter.com/F1)

Charles Leclerc, yang menjadi pebalap rookie tebaik musim lalu, mengawali debut yang apik bersama Sauber hingga dilirik oleh Ferrari untuk berganti bangku dengan Kimi Raikkonen di musim 2019.  Pebalap asal Monaco itu telah mengenakan seragam tim berjuluk Kuda Jingkrak ketika menjalani tes pramusim di Abu Dhabi dan sempat mencatatkan waktu tercepat di antara pebalap lainnya.

Membalap untuk Ferrari adalah salah satu posisi paling diincar namun juga sangat berat mengingat siapapun yang duduk di bangku mobil Ferrari akan mendapati tekanan yang besar karena bekerja dengan nama-nama besar, dalam kesempatan ini sang juara dunia empat kali Sebastian Vettel.

Baca juga: Leclerc gantikan Raikkonen di Ferrari
Baca juga: Debut bersama Ferrari, Leclerc tercepat hari kedua tes Abu Dhabi

2. Pertaruhan Red Bull dengan Honda
  Pebalap tim Red Bull Racing turun di sesi latihan bebas (FP1) GP Singapura di sirkuit jalan raya Marina Bay, Singapura, Jumat (14/9). (twitter.com/F1)

Honda memiliki musim yang sulit sebagai pemasok mesin McLaren selama tiga tahun terakhir.  Keputusan Red Bull untuk menggandeng Honda untuk musim depan merupakan keputusan yang berani setelah mereka didera isu reliabilitas dan defisit tenaga kuda dengan mesin Renault yang mereka pakai.

Namun demikian, Honda di tahun pertamanya bersama Toro Rosso menunjukkan peningkatan performa, terutama ketika membantu Pierre Gasly finis keempat di Bahrain di awal musim. Honda memiliki banyak ruang untuk perkembangan terlebih lagi ketika mesin mereka disematkan di salah satu mobil dengan sasis terbaik di musim 2018.

Baca juga: Renault-Red Bull berpisah usai GP Abu Dhabi

3. Intensitas pertarungan tim papan tengah

Pertarungan tim papan tengah diprediksi akan sangat kompetitif di musim 2019. Haas, Renault, Force India, McLaren, Toro Rosso dan Sauber, merupakan penantang utama di papan tengah musim lalu, dan tampaknya persaingan mereka tidak akan mereda musim 2019.

Renault dan Haas, yang finis keempat dan kelima, menikmati musim terbaiknya tahun lalu setelah bergabung di Formula 1 pada 2016. Kemudian ada Force India, yang berubah nama menjadi Racing Point setelah dibeli konsorsium yang dipimpin oleh Lawrence Stroll.

Dukungan finansial dari jutawan asal Kanada itu akan menjadi modal bagus untuk Racing Point, yang akan diperkuat oleh Lance Stroll dan Sergio Perez musim depan.

Musim 2019 akan menjadi ujian bagi tim papan tengah untuk bisa mendobrak monopoli tiga tim, Mercedes, Ferrari, dan Red Bull, yang selalu berada di peringkat tiga besar sejak 2013.

Baca juga: Pertarungan papan tengah Formula 1 2019 diprediksi akan sangat kompetitif

4. Kembalinya Robert Kubica
  Robert Kubica (Williams) merebut podium pertama GP Canada 2018. (Formula1.com)

Robert Kubica akan kembali membalap di Formula 1 bersama tim Williams tahun ini setelah absen delapan tahun karena cedera yang dia dapati ketika melakukan reli. Terakhir kali Kubica membalap bersama Renault pada 2010.  

Selama musim 2018, komitmen dan kerja Kubica sudah membantu tim Williams di belakang layar dan dia telah menjadi salah satu anggota tim Williams yang dihormati.

Kubica, pebalap asal Polandia itu, bersamaan juga melanjutkan program rehabilitasinya yang telah berlangsung selama beberapa tahun hingga akhirnya dia mampu meyakinkan Williams bahwa dia adalah pebalap yang tepat untuk menjadi rekan pebalap rookie George Russell untuk memperkuat Williams tahun depan.

Lewis Hamilton menyebut lawan lamanya di karting itu sebagai salah satu pebalap bertalenta yang disegani ketika balapan.

Baca juga: Robert Kubica kembali ke F1 bersama Williams

5. Wajah lama dengan warna baru

Mercedes dan Haas merupakan dua tim yang mempertahankan formasi pebalapnya untuk musim 2019. Oleh karena itu, tahun depan penonton akan disajikan sejumlah pebalap lama yang mengenakan seragam baru.

Daniel Ricciardo akan mengenakan seragam kuning Renault, Carloz Sains dengan warna oranye McLaren dan Kimi Raikkonen dengan seragam putih Sauber. Kemudian ada Pierre Gasly yang akan memakai seragam biru tua Red Bull, Daniil Kvyat di musim ketiganya dengan Toro Rosso, lalu Lance Stroll yang berusaha membuat ayahnya bangga di Racing Point.
Tidak lupa, Charles Leclerc yang akan mengenakan seragam kebesaran Ferrari tahun depan.

Baca juga: Balapan di balik kacamata “Si Manusia Es” Kimi Raikkonen

6. Jajaran talenta muda

Musim depan akan empat pebalap rookie yang akan mewarnai persaingan perebutan gelar juara. Adalah pebalap George Russell (Williams), Lando Norris (McLaren) dan Alexander Albon (Toro Rosso) yang ketiganya membalap di Formula 2 dan berurutan finis 1-2-3 di musim 2018.
Kemudia ada Antonio Giovinazzi, runner-up GP2 2016 yang akan melakukan debut di F1 bersama Sauber, walaupun pernah menjadi pebalap pengganti di Australia dan China pada 2017.
Baca juga: Pebalap Thailand bela Toro Rosso di Formula Satu 2019

7. Balapan ke-1000 dalam sejarah

GP China 2019 akan menjadi tonggak sejarah baru di mana Formula 1 akan menggelar balapan ke-1000 kalinya di sana. Seri balapan pertama adalah GP Inggris pada 1950 di mana dimenangi oleh Giuseppe Farina dengan mobil Alfa Romeo 158 yang kala itu hanya memiliki tenaga 200bhp. Sementara balapan ke-1000 nanti akan dimenangi oleh mobil bermesin hybrid yang memiliki tenaga hampir 1000 tenga kuda.

8. Nama besar melakukan debut di Formula 2
  Mick Schumacher bersiap mengendarai mobil Benetton B194 yang digunakan ayahnya Michael Schumacher jelang Grand Prix Belgia di Spa-Francorchamps. REUTERS / Stephanie Lecocq / Pool
Publik kemungkinan akan melihat kembali nama Schumacher di balapan Formula 1 karena Mick Schumacher, putra dari sang juara dunia tujuh kali Michael Schumacher, akan turun di balapan Formula 2 bersama tim Prema pada 2019. Sebelumnya naik kasta, pada musim 2018 Schumi junior memenangi titel juara Formula 3 Eropa dengan catatan naik podium pertama delapan kali, termasuk di dalamnya lima kali berturut-turut. Perkembangan pebalap Jerman muda itu pantas untuk diikuti tahun ini.

9. Aturan baru untuk balapan yang lebih ketat

Musim 2019 memiliki aturan baru yang disiapkan juga untuk musim 2021. Salah satunya adalah perubahan di sayap depan yang lebih lebar dan lebih sederhana yang diharapkan bisa meningkatkan sekitar 20 persen kemampuan mobil untuk menguntit mobil lawan. Oleh karena itu, pebalap akan lebih mudah melakukan overtaking.

Selain itu sayap belakang akan lebih tinggi dan sederhana dengan bukaan DRS yang lebih besar, saluran udara untuk rem yang lebih sederhana, dan barge board (sayap samping di antara roda depan dan sidepod) yang memiliki aerodinamika yang lebih sederhana pula.

Baca juga: F1 perkenalkan perubahan regulasi aerodinamika musim balapan 2019

10. Pertarungan Ferrari dan Mercedes
  Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel di GP Singapura (formula1.com)

Ferrari melewatkan peluang untuk menggeser Mercedes dari titel juara pada 2018 di mana tim asal Italia itu menunjukkan perlawanan yang cukup sengit di paruh awal musim.

Kemenangan Sebastian Vettel di sirkuit seperti Silverstone dan Canada membuat tim Silver Arrow lebih keras memutar otak dan strategi.
Baru pada GP Italia dan seterusnya, Mercedes bangkit menyisakan Ferrari dengan hanya satu kemenangan di delapan balapan terakhir, itu pun lewat Kimi Raikkonen.  Ferrari akan siap menantang kembali Mercedes tahun ini dengan ambisi Sebastian Vettel dan talenta muda Charles Leclerc.

Baca juga: Formula 1 musim 2018 dalam restrospeksi

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aplikasi virtual diluncurkan untuk rayakan ulang tahun ke-50 Schumacher

Jakarta, (ANTARA News) – Keluarga Michael Schumacher akan meluncurkan aplikasi interaktif untuk merayakan ulang tahun ke-50 sang juara dunia tujuh kali Formula 1 itu pada Kamis.

Dengan 91 kemenangan dan tujuh gelar juara dunia, Michael Schumacher secara statistik menjadi pebalap paling sukses selama ini.

Sang keluarga akan mengenang dan merayakan kemenangan, rekor dan kebanggaan sosok Michael Schumacher dengan meluncurkan suatu aplikasi, demikian Formula1.com pada Rabu malam.

Aplikasi resmi Michael Schumacher yang akan diluncurkan pada Kamis (3/1)  itu menyajikan sebuah museum virtual di mana para fans akan bisa melihat kembali rekam jejak Schumacher di dunia balap.

“Kami sangat senang untuk merayakan ulang tahun Michael yang ke-50 besok bersama kalian dan terima kasih dari lubuk hati kami yang terdalam karena kita bisa melakukan ini semua bersama,” kata sang keluarga dalam laman Facebook resmi Michael Schumacher.

Schumacher berhenti balapan dari Formula 1 untuk kali keduanya pada 2012. Pada Desember 2013 dia mengalami cedera kepala karena kecelakaan ketika bermain ski.

Dalam laman Facebook Schumacher, sang keluarga menyatakan bahwa,” dia berada di tangan yang terbaik dan kami sedang melakukan semua hal yang memungkinkan untuk menolong dia.”

“Michael akan bangga dengan apa yang dia telah raih, dan juga kami tentunya! Oleh karena itu kami mengenang kesuksesannya dengan pameran koleksi pribadi Michael Schumacher di Cologne, dengan meluncurkan kenangan-kenangan di media sosial dan melanjutkan kegiatan amalnya lewat the Keep Fighting Foundation,” kata sang keluarga.

Saat ini Schumacher masih menjalani perawatan di kediamannya di Swiss namun sang keluarga sangat protektif dan enggan memberitahukan detail kondisi sang legenda dunia balapan itu kepada publik.

Putra Schumacher,  Mick Schumacher (19), tahun ini akan membalap di Formula 2 setelah memenangi kejuaraan Formula 3 Eropa tahun lalu. Sementara sang ayah melakoni debut di F1 pada usia 22 tahun.

Baca juga: Ferrari akan selenggarakan pameran untuk hormati Michael Schumacher
Baca juga: Mengikuti jejak ayahnya, putra Michael Schumacher incar F1

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Red Bull berbenah untuk tantang Mercedes dan Ferrari di 2019

Jakarta (ANTARA News) – Musim balapan 2018 menjadi kali pertama bagi Red Bull Racing memenangi empat balapan, rekor terbaiknya sejak era mesin hybrid diperkenalkan pada 2014, tetapi hasil itu tidak meyakinkan tim untuk meneruskan kerjasama mereka dengan Renault sebagai pemasok mesin.

Red Bull juga memutuskan tidak mempertahankan Daniel Ricciardo bersama mereka. Sang pebalap Australia itu ketika libur musim panas tahun lalu mengumumkan akan meninggalkan Red Bull pada akhir musim untuk membalap bersama Renault pada 2019.

Setelah dihantui isu reliabilitas, Red Bull akan menggunakan mesin Honda musim depan, dengan demikian mengakhiri 12 tahun kemitraan mereka dengan Renault. Kemitraan yang pernah dominan itu akhir-akhir ini diwarnai dengan kekecewaan Red Bull karena di era mesin V6 turbo hybrid mesin Renault kekurangan tenaga dan tidak tahan banting dibanding mesin Mercedes dan Ferrari.

Bersama Renault, Red Bull telah memenangi 59 balapan dengan 160 podium, 60 pole position, 60 lap tercepat dan delapan juara dunia, empat di antaranya diraih Sebastian Vettel di 2010-2013.

“Ketika satu babak usai, babak yang lain terbuka dan kami sangat menantikan musim 2019,” kata Horner.

Baca juga: Renault-Red Bull berpisah usai GP Abu Dhabi

Empat kemenangan dari 21 balapan belum mampu menempatkan Red Bull sebagai kompetitor utama tahun lalu. Akan tetapi, fakta bahwa hanya ada tiga tim yang pernah menjuarai balapan di lima musim terakhir F1, yaitu Mercedes, Ferrari dan salah satunya adalah Red Bull, adalah cukup impresif untuk tim bermarkas di Inggris itu.

“Jelas kami memiliki sebuah mobil yang fantastis tahun ini. RB14 memiliki sasis terkuat di F1 tahun ini,” kata sang kepala tim Red Bull Christian Horner kepada Formula1.com.

Jika memperhitungkan defisit tenaga yang mereka miliki tahun lalu, dan pencapaian yang mereka raih, yaitu empat kemenangan, itu sangat lah impresif. Mobil RB14 mereka tampil kuat di awal musim, tapi momentum tersebut kurang baik terjaga hingga akhir musim.

Baca juga: Formula 1 musim 2018 dalam restrospeksi
  Pebalap F1 Red Bull Daniel Ricciardo melompat ke kolam renang saat ia merayakan kemenangannya di F1 Monaco Grand Prix di Circuit de Monaco, Monte Carlo, Monako, Minggu (27/5/2018). (REUTERS/Benoit Tessier)

“Reliabilitas menjadi kelemahan kami tahun ini. Kami terlalu banyak mengalami kegagalan mesin dan masalah lain yang membuat frustasi. Kami berhasil mengoptimalkan mobil musim ini, menggunakan ban sangat efektif dibandingkan dengan kompetitor kami. Kombinasi sejumlah faktor itu,” kata Horner.

Ricciardo mengamankan dua kemenangan, di GP China dan Monaco, dari enam balapan pertama, namun lebih sering didera sejumlah isu reliabilitas mobil setelah itu. Pebalap Australia itu menyelesaikan musim 2018 dengan delapan kali gagal finis karena masalah mekanis mobilnya.

“Musim yang berat bagi Daniel,” kata Horner. “Daniel adalah pebalap yang fantastis. Bagi kami sebagai tim sedih rasanya tidak bisa bisa membawa kedua pebalap di tempat teratas. Kami mendoakan yang terbaik bagi masa depannya,” kata Horner.
  Pembalap tim Red Bull Racing Max Verstappen (formula1.com)

Justru rekan satu timnya, Max Verstappen, yang mampu bangkit dari start buruk di awal musim untuk finis dengan dua trofi juara serta lima podium berturut-turut yang menempatkan dia di peringkat empat klasemen akhir pebalap. Verstappen menuai pujian setelah memenangi GP Austria dan istirahat musim panas, pebalap asal Belanda itu menemukan ritme balapannya. Hanya Lewis Hamilton yang mampu melampaui perolehan poin Verstappen di periode itu.

“Paruh kedua musim Max sangat fenomenal,” kata Horner. “Itu adalah bagian dari perkembangan dan evolusi dia.”

Tindakan dia di awal tahun, seperti ketika bersenggolan dengan Lewis Hamilton di Bahrain, menjadi pembelajaran bagi Verstappen. Verstappen mengalami insiden serupa dengan Kimi Raikkonen ketika di Austria, namun mampu menyelesaikan balapan di P1.

Kemudian di Brazil ketika Verstappen kehilangan peluang juara karena bersenggolan dengan Esteban Ocon (Force India), yang berusaha agar posisinya tidak di-unlap di penghujung balapan.

Terjadi konfontrasi antara Verstappen, yang diliputi amarah, dan Ocon paska balapan yang mana sang pebalap Belanda itu beberapa kali mendorong rivalnya di garasi FIA. Horner memandang insiden itu memberi pelajaran positif bagi Verstappen. “Dia adalah pebalap yang tangguh yang kaya dengan talenta dan sedang terus berevolusi. Berbekal pengalaman, dia hanya akan semakin kuat dan kuat.”

“Dia belajar dari pengalaman sulit itu,” kata Horner.

Baca juga: Analisa tim di balapan penutup F1 2018
Baca juga: Hamilton tutup seri pamungkas F1 dengan kemenangan

Menghadapi Hamilton dan Sebastian Vettel, dengan total sembilan gelar juara dunia, Verstappen memiliki peluang untuk menjadi penantang utama dengan catatan Red Bull menyediakan paket mobil yang mumpuni untuk melakukan itu.Mereka akan bergantung kepada apa yang bisa ditunjukkan oleh Honda sebagai pemasok mesin.

“Ini adalah awal baru bagi kami dan pertama kali bagi kami untuk bekerja dalam kemitraan mesin sejati. Itu menyegarkan bagi semua dan kami sangat menantikan itu,” kata Horner.

Honda pernah mempunyai waktu yang sulit bersama McLaren ketika kembali turun ke F1 pad 2015 namun menunjukkan progres dengan tim junior Red Bull, Toro Rosso tahun ini dengan membuat performa yang konsisten sepanjang musim lalu. Progres Honda berada di lintasan yang tepat, kata Horner seraya menambahkan bahwa reliabilitas bukan lah masalah utama tapi gagalnya mereka finis sebanyak 11 atau 12 kali musim lalu, itu lah kelemahan utama Red Bull.

“Jika kami bisa memiliki tenaga dan reliabilitas, Lewis gagal finis sekali tahun ini, demikian pula sebastian. Itu lah angka yang kami harus capai,” kata Horner.

Baca juga: F1 perkenalkan perubahan regulasi aerodinamika musim balapan 2019

Mudah memang berandai-andai. Horner mengungkapkan jika saja mesin Renault yang mereka pakai memiliki tambahan tenaga 40KW bisa saja hasil bisa berbeda bagi mereka tahun lalu.

“Saya angkat topi untuk semua yang bekerja di Milton Keynes yang telah memproduksi salah satu sasis terbaik kami,” kata Horner.

Red Bull akan bertumpu kepada Honda untuk bisa menghasilkan mesin yang setara dengan Mercedes dan Ferrari. Jika demikian skenarionya bukan tidak mungkin ketiga tim itu akan memiliki pertarungan yang ketat di trek tahun depan.

Baca juga: 10 alasan untuk tidak melewatkan balapan F1 2019
Baca juga: Balapan di balik kacamata “Si Manusia Es” Kimi Raikkonen

.

Oleh Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

McLaren luncurkan mobil F1 2019 pada hari Valentine

Jakarta (ANTARA News) – Tim McLaren F1 mengumumkan akan meluncurkan mobil balap untuk Formula 1 musim 2019 pada hari Valentine, 14 Februari 2019.

Melalui akun resmi twitternya pada Kamis malam, McLaren mengeluarkan teaser dengan berpantun yang kurang lebih artinya,”Ada mobil berwarna merah, yang lain berwarna biru. Pada hari Valentine, kami akan menyingkapkan punya kami untukmu.”

McLaren selama enam musim terakhir puasa gelar juara, namun mereka berharap dari hasil musim lalu, yaitu finis keeenam, tiga tempat lebih baik dari pada yang mereka capai di tahun 2017 sebagai modal di tahun 2019.

Tim yang bermarkas di Woking, Inggris itu melakukan perombakan dengan merekrut James Key yang sebelumnya bekerja untuk Toro Rosso sebagai kepala departemen tim teknis mereka.

Dengan pensiunnya Fernando Alonso dan hengkangnya Stoffel Vandoorne, Carloz Sainz dan pebalap rookie Lando Norris masuk untuk menempati posisi mereka sebagai pebalap utama.

Baca juga: Pertarungan papan tengah Formula 1 2019 diprediksi akan sangat kompetitif

McLaren menjadi tim keempat yang mengumumkan tanggal peluncuran mobil balapnya untuk musim 2019.

Racing Point akan meluncurkan mobil mereka sehari sebelum hajatan McLaren.

Sementara itu Renault akan meluncurkan mobil mereka pada 12 Februari, kemudian Ferrari pada 15 Februari.

Pada 18 Februari tes-pramusim kedua akan dimulai di Sirkuti de Barcelona-Catalunya Spanyol.

Baca juga: 10 alasan untuk tidak melewatkan balapan F1 2019
T.A059/

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Refleksi karir sang legenda Michael Schumacher

Jakarta (ANTARA News) – Legenda Formula 1 Michael Schumacher genap berusia 50 pada Kamis (3/1) namun masih belum ada kabar yang jelas tentang kondisi kesehatan sang juara dunia tujuh kali itu setelah dia mengalami kecelakaan saat bermain ski pada Desember 2013.

Untuk merayakan ulang tahun Schumacher, sang keluarga meluncurkan aplikasi berbentuk museum virtual di mana para fans kan bisa kembali melihat kembali rekam jejak Schumacher di dunia balap.

Saat ini Schumacher masih menjalani perawatan di kediamannya di Swiss namun sang keluarga sangat protektif dan enggan memberitahukan detail kondisi sang legenda dunia balapan itu kepada publik.

Dua bulan sebelum kecelakaan menimpanya, Schumacher pernah diwawancarai tentang pencapaiannya dan sejumlah rekor di dunia balap yang dia raih. Video wawancara itu diunggah dalam laman resmi Michael Schumacher dan aplikasi yang baru saja diluncurkan.

Dalam video tersebut Schumacher mengungkapkan bahwa balapan di Suzuka pada 2000 merupakan balapan paling emosional di dalam karirnya.

Kala itu dia berhasil mempersembahkan kemenangan untuk Ferrari. “Dua puluh satu tahun Ferrari tanpa gelar juara,” kata Schumi, panggilan akrab Schumacher.

Kemenangan itu juga yang pertama bagi Schumacher setelah empat tahun puasa gelar juara.

Baca juga: Aplikasi virtual diluncurkan untuk rayakan ulang tahun ke-50 Schumacher

Menyandang nama besar, Schumacher juga memiliki lawan tangguh yang membentuknya menjadi salah satu pebalap paling berjaya di dunia balapan F1.

Berangkat bersama dari Formula 3 hingga Formula 1, Michael Schumacher dan Mika Hakkinen menjadi seteru abadi.

Duel kedua pebalap itu di GP Belgia tahun 2000 menampilkan salah satu overtake terbaik sepanjang masa.

Tidak mengherankan jika sang pebalap Finlandia itu terpikir di benak Schumacher ketika ditanya tentang rival yang paling dia hormati.

“Orang yang paling saya hormati sepanjang tahun itu adalah Mika Hakkinen,” kata Schumacher, “Pertarungan yang hebat tapi hubungan pribadi yang stabil.”
  Michael Schumacher, Ferrari F1 (kiri) dan Mika Hakkinen, McLaren Mercedes, (kanan) bersalaman di GP Inggris, Silverstone (16/06/2001) (Formula1.com)
Meskipun menjadi pebalap paling sukses sepanjang masa, Schumacher tumbuh dengan mengidolakan, bukan seorang pebalap, tapi justru seorang atlet sepakbola, seorang penjaga gawang asal Jerman.

“Di masa-masa muda ketika turun di karting, saya melihat Ayrton Senna dan Vicenzo Sospiri yang saya sangat kagumi,” ungkap Schumacher, ” Tapi idola sejati saya adalah Toni Schumacher karena dia adalah seorang pesepakbola yang hebat.”

Baca juga: Ferrari akan selenggarakan pameran untuk hormati Michael Schumacher

Schumacher lahir di suatu daerah dekat Cologne, Jerman pada 3 Januari 1969, enam tahun sebelum adiknya, Ralf Schumacher lahir.

Ayahnya adalah seorang tukang batu dan menjalankan bisnis sirkuit karting di Karpen di mana istrinya mengurusi kantin di trek tersebut.

Schumacher kecil, berusia empat tahun kala itu, senang bermain pedal mobil karting. Ayahnya yang melihat tingkah anaknya itu akhirnya memberikan mobil karting yang menggunakan mesin sepeda motor, walaupun pada awalnya Schumacher menabrak tiang lampu dengan mobil buatan ayahnya.

Tak butuh waktu lama buat si Schumacher kecil untuk menguasai balapan karting, di usia enam tahun dia memenangi kejuaraan karting kali pertamanya.

Pada 1987 Schumacher memenangi kejuaraan karting Eropa dan Jerman sekaligus. Schumi juga meninggalkan bangku sekolah untuk magang sebagai mekanik mobil, suatu pekerjaan yang kemudian digantikan sebuah profesi tetap sebagai pebalap.

Pada 1990 Schumacher menjadi juara F3 dan satu tahun kemudian dia melakoni debut di F1 bersama Jordan di GP Belgia sebagai pebalap pengganti hingga pada 1992 Benetton merekrut Schumacher, yang memenangi GP pertamanya, lagi-lagi di Sirkuit Spa, Belgia.

Bersama Benneton, Schumacher meraih dua gelar juara dunia F1 pada 1994 dan 1995.

Setelah itu dia memutuskan untuk pindah ke Ferrari, kala itu adalah tim yang sedang kusut tanpa gelar juara dunia sejak terakhir kalinya pada 1979.

Sepuluh musim bersama Ferrari, Schumacher menikmati masa-masa keemasannya dengan mendominasi kejuaraan lewat lima kali gelar juara dunia berturut-turut dari tahun 2000-2004.

Baca juga: Ferrari berikan penghormatan kepada Schumacher
  Michael Schumacher bersama anggota tim Ferrari  (dpa/Roland Weihrauch)

Ketika di trek, Schumi terlihat sebagai pebalap yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Tapi di balik imej itu dia sebenarnya terdorong oleh rasa ragu di dalam dirinya.

“Keragu-raguan, saya kira sangat lah penting untuk tidak menjadi terlalu percaya diri, harus skeptis, untuk melihat perbaikan dan langkah-langkah selanjutnya,” kata Schumacher.

“Saya selalu merasa jika saya tidak cukup baik dan saya perlu untuk mengembangkan diri saya sendiri.   Itu adalah salah satu resep yang membentuk saya seperti sekarang ini,” kata Schumacher.

Oleh karena itu, para pebalap lain sering menempatkan Schumacher di bawah radar mereka.

Namun ketika mereka mengamati dirinya, Schumacher pun mempelajari bukan hanya rival tercepat tapi semua lawan-lawannya.

“Kalian tidak hanya melihat para pebalap terdepan, kalian melihat setiap orang. Karena setiap orang memiliki sesuatu yang spesial yang ingin saya ketahui,” kata Schumacher.

Talenta membalap saja tidak cukup untuk menjadi gelar juara. Schumacher sadar bahwa untuk menjadi pebalap yang baik dia butuh mengembangkan keterampilan yang lain.

Memiliki dasar sebagai pebalap karting bisa menjadi modal yang bagus. Setelah itu, seorang pebalap harus mampu memaksimalkan mobilnya, tak hanya membalap dengan cepat tapi bagaimana memahami untuk menyusun semua paket untuk menjadi yang tercepat.

“Kalian bersama tim yang ingin kalian beri motivasi, yang kalian ingin dorong melewati batas mereka dan ingin kalian senangkan,” kata Schumacher. Michael Schumacher mengendarai Mercedes Petronas 2011 di Sepang (wikipedia/morio)

Tiga tahun setelah pensiun, pada 2010 Schumacher kembali membalap di F1, waktu itu bersama Mercedes.

Selama tiga tahun bersama pabrikan asal Jerman itu, Schumacher hanya mampu menambah satu finis podium di CV-nya sebelum pensiun untuk kedua kali.

Namun dia tidak pernah menyesali keputusannya untuk kembali ke F1. “Menyesal? Tidak. Memang kami tidak meraih apa yang menjadi target kami, kejuaraan itu tidak membuahkan hasil baik, tapi bagi saya pribadi, saya belajar banyak dan momen-momen sulit itu lah yang membuat kalian tangguh,” kata Schumacher.

Yang menjadi ironi adalah, setelah dia menyintas berbagai musim balapan di profesinya yang berbahaya sebagai pebalap, Schumacher, pada tahun pertama pensiun permanennya mengalami cedera kepala serius ketika bermain ski saat berlibur bersama keluarganya.

Menyusul kecelakaan yang menyebabkan dia dalam keadaan koma selama beberapa bulan, keluarga Schumacher membawanya pulang untuk menjalani perawatan dan rehabilitasi di rumah.

Pihak keluarga jarang mempublikasikan detail kondisi kesehatan Schumacher. Dalam laman media sosial resmi Schumacher, sang keluarga menyatakan bahwa “dia berada di tangan yang terbaik dan kami sedang melakukan semua hal yang memungkinkan untuk menolongnya.”

Pada peringatan ulang tahun emas Schumacher, media sosial pun dibanjiri dengan tagar #KeepFighting sebagai bentuk dukungan dan harapan terhadap kesembuhan sang legenda dunia balap itu.

Baca juga: 10 alasan untuk tidak melewatkan balapan F1 2019

Oleh Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Timnas sepeda Indonesia siap tanding di ATC 2019

Jakarta (ANTARA News) – Pelatih kepala timnas balap sepeda BMX Dadang Haris Purnomo menyatakan Indonesia siap bertanding dalam ajang Asian Track Championship (ATC) yang akan berlangsung mulai 8 hingga 13 Januari 2019.

“Sejauh ini, persiapan semua atlet baik-baik saja, kondisinya juga sudah oke, aman dan sudah siap untuk bertanding,” kata Dadang saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu.

Ia mengungkapkan sampai dengan saat ini, seluruh atlet masih terus menjalani beragam sesi latihan menjelang penyelenggaraan kejuaraan balap sepeda tingkat Asia tersebut.

“Latihan itu sudah dilakukan sejak berakhirnya Asian Games 2018. Jadi, usai Asian Games, para atlet langsung lanjut latihan untuk ACC. Dengan begitu, persiapannya akan semakin matang,” ujar Dadang.

Sementara itu, dia memastikan kompetisi di antara para atlet akan sangat ketat mengingat ACC merupakan salah satu kejuaraan yang dapat dimanfaatkan oleh para atlet untuk mengumpulkan poin sebagai bekal mengikuti Olimpiade 2020 mendatang.

“Semua negara yang ikut ACC itu pasti akan mempersiapkan atletnya dengan sangat baik, dan atletnya juga akan berjuang mati-matian. Poin dalam kejuaraan ACC itu cukup besar jika dibandingkan dengan event lainnya,” tuturnya.

Dalam kejuaraan yang akan diselenggarakan di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur itu, dia mengatakan Indonesia akan mengerahkan sebanyak 28 atlet yang akan tampil dalam 15 nomor pertandingan putra dan putri.

“Total keseluruhan ada 28 atlet, dengan rincian 14 atlet elit, 8 atlet junior dan 6 atlet para. Kami berharap seluruh atlet dapat tampil dengan semaksimal mungkin sekaligus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya,” demikian disampaikan Dadang.

Baca juga: Indonesia siap gelar Asian Track Championship 2019
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Timnas sepeda Indonesia diharapkan raih gelar juara ATC 2019

Jakarta (ANTARA News) – Pelatih kepala timnas balap sepeda BMX Dadang Haris Purnomo berharap Indonesia dapat meraih gelar juara dalam Asian Track Championship (ATC) yang akan diselenggarakan mulai 8 hingga 13 Januari 2019. 

“Kami berharap semua atlet bisa tampil dengan baik dan maksimal. Kami juga berharap ada yang bisa meraih podium, atau jadi juara,” kata Dadang saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu. 

Menurut dia, tidak jauh berbeda dengan kejuaraan Asian Games 2018 lalu, ada lawan yang dianggap cukup berat bagi timnas Indonesia, antara lain Jepang, China dan Korea Selatan. 

“Terlebih lagi, di kejuaraan itu semua atlet akan bersaing dengan sangat ketat karena ATC itu poinnya cukup besar jika dibandingkan dengan event lainnya, lumayan untuk Olimpiade 2020. Jadi, semuanya harus berjuang keras,” ujar Dadang. 

Meski demikian, dia menuturkan, timnas Indonesia tetap punya peluang meraih gelar juara, mengingat banyaknya sesi latihan yang telah dijalani oleh seluruh atlet. 

“Timnas sudah melakukan latihan sejak Asian Games 2018 berakhir. Sejak saat itu, latihan difokuskan untuk ATC 2019, karena para atlet juga harus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya supaya bisa ikut Olimpiade 2020,” tutur Dadang. 

Lebih lanjut, dia mengungkapkan selain beragam sesi latihan, seluruh atlet juga sempat diikutsertakan dalam beberapa perlombaan di beberapa negara di Asia, di antaranya di India, Malaysia dan Thailand. 

“Bahkan kalau dilihat dari perlombaan di beberapa negara itu hasilnya lebih baik dari Asian Games 2018. Dengan demikian, timnas Indonesia masih memiliki kesempatan untuk bisa meraih gelar juara dalam kejuaraan ATC 2019,” ungkap Dadang. 

Dalam kejuaraan yang akan diselenggarakan di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur itu, dikerahkan sebanyak 28 atlet yang akan tampil dalam 15 nomor pertandingan putra dan putri. 

Dari total keseluruhan 28 atlet tersebut, 14 diantaranya merupakan atlet elit, 8 atlet junior dan 6 atlet para atau disabilitas. 

Baca juga:
Timnas sepeda Indonesia siap tanding di ATC 2019
Indonesia siap gelar Asian Track Championship 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jelang Asian Track Championship 2019

Tim sepeda balap asal Cina melakukan uji coba lintasan jelang Asian Track Championship (ATC) 2019 di Jakarta International Velodrome, Jakarta, Senin (7/1/2019). Balap sepeda yang diikuti 297 atlet “cycling dan paracycling” dari 16 negara Asia tersebut akan diselenggarakan pada 8-13 January 2019. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.